Jumlah Siswa Membludak, SDN 80 Koteng Butuh RKB

Kondisi SDN 80 Kota Tengah saat ini perlu mendapat perhatian dan kepedulian dari pemerintah. Hal ini tidak mengada-ada karena jumlah siswa sudah overload yakni 1 kelas diisi oleh 45 orang siswa. Padahal idealnya 1 kelas itu hanya ada 25 siswa.
Jumlah siswa yang membludak ini memang sudah sewajarnya terjadi karena minat untuk masuk ke sekolah ini dari tahun ke tahun terus meningkat sementara pihak sekolah tidak berdaya menolak minat orang tua siswa menyekolahkan anaknya di sekolah ini. Meski diakui, di kompleks Perum Perumnas Pulubala terdapat beberapa SD yang berdekatan, namun ternyata dalam perkembangannya SDN 80 Kota Tengah tetap menjadi tujuan bagi calon siswa baru untuk memilih sekolah ini.
Kepala Sekolah Hariyati Sanusi, S.Pd yang menjabat sejak tahun 2005 lalu hingga saat ini dengan penuh dedikasi mempatrikan dirinya mengabdi bagi keberlangsungan pendidikan di sekolahnya, meski dengan kondisi kelebihan siswa. Hariyati Sanusi mengakui untuk penambahan ruang kelas memang hanya bisa dinaikkan satu tingkat mengingat keterbatasan lahan sekolah. Saat ini saja, siswa tidak memiliki halaman yang memadai untuk melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler semisal olahraga dan kesenian selain mengambil lokasi lapangan yang berdekatan dengan sekolah.
Terkait minat orang tua murid yang demikian besar memilih sekolah ini, Hariyati Sanusi mengakui bahwa hal itu dipicu oleh apresiasi masyarakat terhadap performance sekolahnya yang terbilang cukup baik. Animo dan minat masyarakat ini merupakan wujud kepercayaan masyarakat terhadap sekolahnya yang mampu memberikan yang terbaik bagi anak didiknya. Salah satu bukti bahwa sekolah ini memiliki prospek yang baik adalah prestasi meraih juara Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun 2008, juara 2 keluarga sadar gizi tingkat Provinsi, juara 1 gerak jalan, juara 2 baca puisi, pildacil, dan juara 1 lomba melukis yang di laksanakan di UNG.
Kepala Sekolah yang pernah mengikuti Diklat Managemen Kepala Sekolah di Malang, Jawa Timur ini juga memiliki kiat-kiat khusus untuk mengembangkan kesadaran anak didik terhadap kekebersihan lingkungan yang diaplikasikan melalui penerapan disiplin yakni setiap siswa diajarkan pada saat menemukan sampah yang berserakan segera dipungut dan diambil dengan mengucap Bismillah, dengan demikian sudah mendapatkan pahala….baik itu di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Hal ini ternyata mampu mendorong dan memotivasi siswa menjaga kebersihan lingkungan. Upaya ini ungkap Hariyati Sanusi mendapat respon positif dari masyarakat. (Erwin/AM)
Dorong Minat Baca, SDN 77 Koteng Gelar “MENU PAGI”
Unggul dalam IPTEK yang dilandasi IMTAK dan berwawasan lingkungan merupakan visi SDN 77 Kota Tengah. Visi tersebut merupakan implementasi dari upaya sekolah yang bertekad ingin mewujudkan pendidikan dasar yang berkualitas yang mampu menghasilkan insan-insan yang kelak dapat diandalkan bagi masa depan bangsa ini. Manifestasi dari semangat tersebut dilaksanakan melalui berbagai terobosan dan inovasi diantaranya melalui program MENU PAGI yakni membaca terutama Bahasa Inggeris dan Matematika yang sudah menjadi agenda rutin bagi siswa. Kegiatan ini dilaksanakan setiap pagi saat jam pelajaran dimulai yang berlaku bagi seluruh siswa tanpa terkecuali dengan mengambil tempat duduk di bawah pohon, di halaman, di koridor sekolah dan lain-lain. Hal ini dimaksudkan selain menambah wawasan dan ilmu pengetahuan siswa juga memumpuk budaya gemar memabca di kalangan siswa sejak dini.
Kepala Sekolah Hamira Dama, S.Pd, M.Pd menuturkan, upayanya untuk melakukan berbagai inovasi pembelajaran ini merupakan salah satu strategi dalam meningkatkan kualitas out put pendidikan agar tidak menoton dan terbatas pada pembelajaran di muka kelas saja tapi juga memberi nuansa baru dalam pembelajaran.
Upaya tersebut paling tidak telah mulai menunjukkan hasil yang gemilang, buktinya dapat dilihat dari prestasi akademik dan non akademik yang berhasil ditorehkan baik di tingkat Kota Gorontalo, Provinsi dan nasional diantaranya pernah menjuarai Olimpiade IPA tahun 2004, Juara Olimpiade Matematika tahun 2005, Juara Olimpiade Matematika 2009 hingga mewakili Provinsi Gorontalo ke tingkat Nasional serta Juara 3 pertandingan bulu tangkis putra tingkat Kota Gorontalo.
Selain itu SDN 77 Kota Tengah mendapatkana kepercayaan dari pemerintah sebagai Sekolah Dasar Standrat Nasional (SDSN), meraih juara 1 pada Lomba Kinerja Gugus di tingkat Provinsi Gorontalo tahun 2008. Semua prestasi ini menurut Hamira Dama merupakan modal untuk meraih cita-cita pengembangan sekolah meraih status menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Obsesi meraih RSBI ini menurut Hamira Dama akan memicu semangat dan motivasi untuk meningkatkan kinerja warga sekolah termasuk didalamnya meningkatkan kapasitas, kompetensi dan profesionalisme guru . tahun 2009 lalu misalnya, selaku Kepala Sekolah ia telah mengikuti pelatihan pengembangan SDSN dan pengembangan gugus dan memberikan kesempatan kepada guru untuk mengikuti berbagai kegiatan Diklat, Seminar dan workshop sebagai wahana pengembangan diri guru. (Erwin/AM)
LESSON STUDY MANFAAT DAN APLIKASINYA
OLEH Kalsum Moonti S.Pd.M.Pd
Bagian Terakhir
IMPLEMENTASI LESSON STUDY
Mengapa Lesson Study diimplementasikan? .
1. Lesson Study merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas belajar dan mengajar karena ; (a) Lesson Study dilakukan dan didasarkan pada hasil ‘ sharing ‘ pengetahuan professional yang berlandaskan pada praktek dan hasil pengajaran yang dilaksanakan para guru ; (b) Lesson Study menekankan pada kualitas belajar siswa; (c) Tujuan pembelajaran dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam pembelajaran di kelas; (d) Lesson Study mampu menjadi landasan bagi pengembangan pembelajaran karena berdasarkan pengalaman real di kelas; (e) Lesson Study akan menempatkan para guru sebagai peneliti pembelajaran (Lewis, 2002:7).
2. Lesson Study menciptakan guru –guru yang profesional dan inovatif karena untuk melaksanakan Lesson Study memerlukan desain yang baik yang dilakukan sekelompok guru dan seorang pakar melalui diskusi menyangkut hal-hal ; (1) kondisi lingkungan siswa dan fasilitas yang tersedia; (2) rumusan kompetensi dan indikator yang harus dimiliki siswa ;(3) penentuan materi pelajaran yang terkait dengan ; (a) pokok-pokok materi dan uraiannya; (b) urutan materi sajian; (c) sajian materi yang disesuaikan dengan lingkungan siswa / materi local / life skill / keimanan / agama; (d) pemilihan / penyusunan soal-soal latihan / soal-soal yang berhubungan dengan problem solving dalam rangka penyusunan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan soal-soal tes formatif; (4) pemilihan metode /strategi pembelajaran inovatif yang menyenangkan dan motivasi belajar siswa; (5) Pemilihan media / alat peraga pembelajaran serta pengadaannya; (6) Petunjuk guru dalam praktek pembelajaran (teaching guide); (7) Penentuan indikator keberhasilan proses pembelajaran; (8) penentuan model Rencana Pelak sanaanPembelajaran (RPP) atau Satuan Acara Pembelajaran (SAP).
3. Lesson Study memberi dampak terhadap ;(1) peningkatan mutu guru dan mutu pembelajaran yang pada gilirannya berakibat pada peningkatan mutu lulusan (siswa); (2) pemberian kesempatan kepada guru menciptakan ide-ide pendidikan yang bermakna untuk diaplikasikan pada praktek pembelajaran ; (3) kemudahan berkonsultasi kepada pakar dalam hal pembelajaran atau kesulitan pemahaman materi pelajaran; (4) perbaikan praktek pembelajaran di kelas; (5) peningkatan kolaborasi antar guru dan antara guru dan pakar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran; (6) peningkatan keterampilan guru dalam menulis karya tulis ilmiah atau buku ajar.
D. MANFAAT LESSON STUDY
Lesson Study memberi manfaat sebagai berikut.:
1. Mengurangi keterasingan guru (dari komunitasnya), khususnya dalam pembelajaran.
2. Meningkatkan kolaborasi sesama guru.
3. Membantu guru untuk mengobservasi dan mengkritisi pembelajarannya.
4. Memperdalam pemahaman guru tentang materi ajar ,cakupan dan urutan materi dalam kurikulum, pengetahuan tentang pembelajaran sehingga dapat menciptakan kualitas rencana pembelajaran.
5. Membantu guru memfokuskan bantuannya pada seluruh aktivitas belajar siswa.
6. Memperkuat hubungan antara pelaksanaan pembelajaran sehari-hari dengan tujuan jangka panjang yang harus dicapai.
7. Menciptakan terjadinya pertukaran pengetahuan tentang pemahaman berpikir dan belajar siswa.
8. Meningkatkan motivasi belajar guru dan siswa untuk selalu berkembang.
E. APLIKASI LESSON STUDY
Dalam penerapannya, Lesson Study meiliki prosedur yang terdiri dari ;
1. Tahap perencanaan (PLAN)
2. Tahap pelaksanaan ( DO/ RESEARCH LESSON )
3. Tahap kegiatan pasca pembelajaran ( SEE / REFLECTION / POST_CLASS DISCUSSION )
F. MODEL PELAKSANAAN LESSON STUDY
Lesson Study dapat dilaksanakan melalui ; (1) Lesson Study berbasis sekolah; (2) Lesson Study berbasis kelompok sekolah ; (3) Lesson Study berbasis MGMP/ KKG.
Lesson Study berbasis sekolah dilaksanakan pada sekolah tertentu. Kelompoknya adalah guru mata pelajaran sejenis atau serumpun. Kepala sekolah
berperan sebagai penggerak, motivator, dan koordinator secara keseluruhan. Mengatur jadwal pelajaran agar pelaksanaan Lesson Study tidak mengganggu tugas guru, sekaligus mengatur pelaksanaan Lesson Study untuk tiap rumpun mata pelajaran, dan juga memonitor serta mengevaluasi pelaksanaan Lesson Study.
Lesson Study berbasis kelompok sekolah didasarkan pada kesepakatan para kepala sekolah untuk melaksanakan Lesson Study. Kelompok dapat diubah-ubah untuk pengimbasan pengetahuan. Banyaknya guru tiap rumpun mata pelajaran minimal 3 orang. Pengaturan jadwal diatur sehingga tidak mengganggu tugas guru. Sekolah dapat meminta bantuan guru senior/dosen pada setiap rumpun sebagai koordinator. Seminar hasil dilaksanakan antar kelompok rumpun mata pelajaran.
Lesson Study berbasis MGMP/KKG dilaksanakan berdasarkan kesepakatan untuk melaksanakan Lesson Study. Kelompok dapat diubah-ubah untuk pengimbasan pengetahuan Pelaksanaan seminar hasil dilakukan antar kelompok rumpun mata pelajaran.
SMK Tirtayasa, Selangkah Lebih Maju

Strategi pengembangan institusi pendidikan antara sekolah yang satu dengan yang lainnya terkadang dalam hal-hal tertentu memiliki perbedaan yang signifikan. Semua itu terpulang kepada sejauhmana apresiasi Kepala Sekolah dan gurunya menyikapi kondisi sekolahnya dengan tuntutan dan dinamika di masyarakat.
SMK Tirtayasa misalnya, memiliki konsep pembelajaran yang berbeda dengan sekolah lainnya. Kepala Sekolah Ir. Masril melalui Wakil Kepala Sekolah bagian Kurikulum dan Sarana Drs. Thoyibin mengatakan, sistem penjadwalan belajar di sekolahnya selama ini menggunakan blok release dan menerapkan 30 persen teori dan 70 persen praktek.
Hal ini dimaksudkan agar siswa lulusan SMK Tirtayasa mampu berkompetisi dengan alumni sekolah lainnya. Konsep yang diterapkan ini ungkap Masril telah terbukti dalam beberapa tahun belakangan ini yakni banyak siswa-siswinya telah mampu berkarya di dunia kerja dan dunia usaha.
Hal ini ditunjang pula oleh sarana dan prasarana pembelajaran yang sudah memadai termasuk sarana praktek yang sudah selangkah lebih maju diantaranya sudah memiliki beberapa alat dan mesin yang canggih seperti mesin bubut Toyota dan Yaris. Hal ini didukung pula oleh keberadaan guru yang mencapai jumlah 17 orang yakni guru berstatus PNS sebanyak 2 orang dan yang lainnya guru yang direkrut oleh pihak sekolah.
Peralatan ini diakui Thoyibin berkat bantuan dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat, termasuk didalamnya bantuan dana untuk pembangunan 4 Ruang Kelas Baru (RKB). Yang menggembirakan lagi tutur nya, pemerintah pusat hampir setiap tahun mengucurkan bantuan untuk sekolah ini yang difasilitasi oleh Trullyanti Habibie mantan Anggota DPR RI periode 2004-2009 lalu.
Performance sekolah yang memiliki 122 siswa ini sehingga mampu eksis ditengah persaingan lembaga pendidikan saat ini telah membangkitkan rasa percaya diri warga sekolah. Hal ini dapat dilihat dari prestasi akademik dan non akademik yang diraih sekolah ini hingga ke tingkat nasional. Diantaranya beberapa kali mewakili Provinsi Gorontalo ke tingkat Nasional untuk beberap event penting, pernah meraih juara 2 Hasil UN tingkat SMK se Kota Gorontalo, juara favorit napak tilas tahun 2010, juara Favorit Vokalia yang diselenggarakan UNG, juara 2 musik Perkusi yang diselenggarakan oleh UNG dan masih banyak deretan prestasi lainnya.
SMKN 5 Gorontalo, Mununggu Badai Berlalu

SMK Negeri 5 Kota Gorontalo meski masih menempati gedung pinjaman SDN 15 Kota Barat, namun dalam perkembangannya tetap eksis menyelenggarakan pendidikan bagi 175 orang siswanya. Hal ini ditunjang pula oleh keberadaan guru yang sudah mencapai jumlah 12 orang yang berstatus PNS dan 7 orang Guru Tidak Tetap (GTT).
Eksis ditengah keterbatasan itulah ungkapan yang tepat bagi sekolah ini. Maklum saja dari segi sarana dan prasarana yang ada saja masih terbilang belum memadai. Bisa dibayangkan, fasilitas komputer yang layak pakai untuk praktek siswa saja saat ini hanya tersisa 4 unit saja, sisanya sudah rusak dan tidak layak pakai lagi.
Hal ini mengindikasikan, SMK Negeri 5 Kota Gorontalo selama ini termasuk sekolah yang mampu bertahan ditengah badai dan gemuruh dinamika sekolah lain yang berlomba dengan fasilitas pembelajaran modern yang sarat dengan ICT.
Meski di tengah keterbatasan tersebut Kepala Sekolah Dra. Nursia K. Hasan tetap optimis bahwa sekolahnya kedepan akan bangkit dan menjadi salah satu institusi pendidikan yang menjadi kebangggaan masyarakat Kota Gorontalo. Yang terpenting bagi Nursia K. Hasan adalah komitmen dan kerja keras seluruh warga sekolah untuk memberikan yang terbaik kepada siswa dan masyarakat. Badai pasti berlalu demikian Nursia merangsang semangatnya setiap saat.
Berkat komitmen dan daya juang yang tinggi tersebut, SMK Negeri 5 Kota Gorontalo tetap dinamis dan elegan menjalani proses pembelajaran dengan gemilang. Selain itu tetap mampu menunjukkan kemampuannya untuk mengikuti berbagai event dan kegiatan baik di tingkat Kota Gorontalo, Provinsi dan di tingkat nasional.
Tahun 2009 lalu misalnya, Sekolah ini berhasil menjuarai lomba puisi , juara 3 lomba lari 45 km dan pada agustus 2009, juara 3 pemiliham PPIB tingakt Kota Gorontalo juga liga pelajar Walikota Cup, serta lomba cerdas tangkas Akuntansi se Indonesia timur.
Selain itu sang Kepala Sekolah tetap eksis mengikuti berbagai program peningkatan kompetensi dan profesionalismenya sebagai guru semisal mengikuti Diklat Talent Scouting untuk SMK tahun 2009 di Malang, mengikuti Rakor tentang penyebaran informasi khusus untuk seluruh Kepsek se Provinsi Gorontalo. (Erwin/AM)
DOKUMENTASI EDISI APRIL-MEI 2010
RUBRIK EDUKASI
OLEH : ESTER YUNGINGER, M.Pd
Kepala SMA Negeri 1 Tibawa
Bagaimana pelaksanaan pembelajaran remedial itu ?
Dalam Panduan Penyelenggaraan Remedial itu disebutkan bahwa pembelajaran remedial dilaksanakan dalam dua bentuk yaitu sebagai berikut :
1. Pemberian bimbingan secara khusus dan perorangan bagi peserta didik yang belum atau mengalami kesulitan dalam penguasaan KD tertentu. Cara ini merupakan cara yang mudah dan sederhana untuk dilakukan karena merupakan implikasi dari peran guru sebagai “tutor”
2. Pemberian tugas-tugas atau perlakuan (treatment) secara khusus, yang sifatnya penyederhanaan dari pelaksanaan pembelajaran reguler.
Dari penjelasan di atas dapat dicontohkan sebagai berikut :
Pembelajaran remedial dapat dilaksanakan dengan cara memberi tugas kepada peserta didik yang belum tuntas tersebut. Tugas diberikan dalam rangka meningkatkan kemampuan peserta didik menguasai indikator-indikator dari kompetensi yang belum tuntas. Bisa dalam bentuk pengerjaan soal-soal yang terkait dengan kompetensi, dan bisa pula berbentuk laporan kerja. Dalam bentuk pembelajaran remedial seperti ini, peserta didik yang pintar dapat difungsikan sebagai tutor sebaya.
Contoh lain pembelajaran remedial bagi peserta didik yang belum tuntas adalah dengan menugaskan membaca materi yang terkait dengan kompetensi yang belum tuntas tersebut pada buku yang ditunjuk guru di perpustakaan. Selesai dibaca peserta didik mengikuti ujian atau ditugaskan membuat laporan atau rangkuman dari isi bacaan tersebut untuk dinilai oleh guru.
Kapankah pembelajaran remedial itu dilaksanakan ?
Menurut mekanisme dan prosedur penilaian dalam Standar Penilaian Permendiknas No 20 tahun 2007 bahwa hasil ulangan harian diinformasikan kepada peserta didik sebelum diadakan ulangan harian berikutnya. Peserta didik yang belum mencapai KKM harus mengikuti pembelajaran remedi.
Kemudian diperjelas dalam Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Remedial sebagai berikut :
”Pembelajaran remedial dapat diberikan setelah peserta didik mempelajari KD tertentu. Namun karena dalam setiap SK terdapat beberapa KD, maka terlalu sulit bagi pendidik untuk melaksanakan pembelajaran remedial setiap selesai mempelajari KD tertentu. Mengingat indikator keberhasilan belajar peserta didik adalah tingkat ketuntasan dalam mencapai SK yang terdiri dari beberapa KD, maka pembelajaran remedial dapat juga diberikan setelah peserta didik menempuh tes SK yang terdiri dari beberapa KD.” (Ditbin SMA, 2008 ; 8)
Dari mekanisme dan prosedur penilaian sarta panduan penyelenggaraan remedial tersebut jelas bahwa pembelajaran remedial dilaksanakan setelah pembelajaran terhadap suatu KD, paling luas setelah satu SK (Standar Kompetensi).
Tidak ada dijelaskan bahwa penyelenggaran pembelajaran dilaksanakan setelah ujian semester. Ujian semester itu biasanya mencakup beberapa SK atau KD yang telah diikuti oleh peserta didk.
Kesimpulan
Pembelajaran remedial bukan sekedar melaksanakan ujian ulangan untuk memperbaiki nilai saja, tetapi merupakan suatu proses pembelajaran kembali pada materi yang belum dikuasai peserta didik, artinya tidak semua materi diremedialkan, tetapi hanya materi yang belum dikuasai peserta didik. Semua peserta didik belum tentu mengalami ketuntasan yang sama terhadap materi ajar, maka pembelajaran remedial lebih banyak dilaksanakan dalam layanan individual.
Pembelajaran remedial dilaksanakan setelah selesai penilaian suatu KD (paling tidak satu SK) bukan pada selesai ujian tengah semester atau ujian semester maupun ujian naik kelas, ujian sekolah atau ujian nasional.